Politik Kantor Mungkinkah Dihindari

POLITIK KANTOR MUNGKINKAH DIHINDARI

Politik (dari bahasa Yunani: politikos, yang berarti dari, untuk, atau yang berkaitan dengan warga negara), adalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang antara lain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya dalam negara. Pengertian ini merupakan upaya penggabungan antara berbagai definisi yang berbeda mengenai hakikat politik yang dikenal dalam ilmu politik.
Politik adalah seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusional maupun non konstitusional.
Politik tidak hanya ada di gedung parlemen yang diisi oleh para politikus untuk mendapatkan kekuasaan, simpati rakyat, dan legitimasi hukum. Tetapi politik ada di mana-mana, tidak terkecuali di tempat kerja. Para ahli menilai, karyawan sebagai pihak yang harus tunduk dan menjalankan aturan perusahaan, tidak punya pilihan lain kecuali ikut bermain dalam politik di tempat kerja jika ingin berhasil dalam kehidupan korporasi. Politik adalah roh dan kepribadian perusahaan. Karena itu, karyawan harus belajar menyesuaikan diri dengan aturan-aturan yang ada di perusahaan. Karyawan tidak bisa menjalankan idealisme sendiri yang diyakininya dijalankan di perusahaan, meskipun hal itu adalah benar. Karyawan harus menjadi aktor dan ikut bermain,” papar Julie Jansen, penulis buku I Don’t Know What I Want, but I Know It’s Not This: A Step-by-Step Guild to Finding Gratifying Work.
Jansen menilai, keterampilan karyawan untuk bermain politik memiliki arti penting yang sama dengan keterampilan-keterampilan profesional yang penting untuk mendongkrak karier. Jansen mengungkapkan, karyawan terutama harus menguasai keterampilan politik berupa kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang yang tepat. ”Karyawan harus mampu memilih pihak yang tepat dan berkomunikasi seperti yang dilakukan orang-orang lain dalam perusahaan. Politik sesungguhnya tidak dapat dihindari. Politik mampu menentukan tujuan dan mengembangkan koalisi orang-orang untuk mencapai tujuan tersebut,” papar Jansen.
Agar lebih mahir berpolitik, Jansen menuturkan, karyawan, terutama yang masih muda, jangan pernah mencoba menolak atau mengubah kebudayaan perusahaan. Termasuk cara berpakaian, gaya komunikasi, dan jam kerja. Karyawan yang tampil beda di tempat kerja umumnya cenderung dikucilkan. Menyelesaikan pekerjaan dengan hasil terbaik, Jansen menilai, tidak akan cukup untuk mendongkrak karier. Di samping harus berkinerja baik, karyawan yang ingin meningkatkan karier harus pula mampu membangun citra positif di mata orang-orang sekitar. Prestasi harus dikemas untuk membangkitkan rasa hormat, bukan kecemburuan.
Di samping itu, Jansen menambahkan, karyawan juga harus belajar mengelola level stres. Dengan demikian, karyawan dapat menghindarkan citra emosional dan tidak konsisten. Lingkungan dapat menilai seseorang sebagai pribadi yang tidak terkelola jika pribadi itu kerap menunjukkan ledakan-ledakan emosi.
”Tidak kalah penting, karyawan juga harus selalu membuka diri. Di mana pun berada, jika ada orang mendekat, maka orang itu harus dilayani. Ini efektif untuk membangun jaringan koalisi,” papar Jansen. Dia menilai, posisi politis seseorang menjadi semakin kuat jika orang itu memiliki jaringan yang lebih besar.
Sebagai pengingat saja, setiap karyawan diwajibkan untuk menguasai 3 skill. Pertama Technical Skill, Human Skill, dan Conseptual Skill. Karyawan yang merasa sudah mempunya keterampilan dan ilmu yang tinggi di bidangnya, janganlah merasa bahwa dirinyalah yang paling bisa mengatur pekerjaan. Seorang karyawan yang merasa dirinya paling unggul dibanding teman-teman sekelilinya tanpa dibarengi dengan kemampuan berkomunikasi dengan pihak lain secara baik, hanya akan menciptakan petaka bagi dirinya sendiri, karena hanya kesombongan yang akan muncul. Demikian juga dengan pembuatan suatu konsep kerja yang baik, tidak akan mudah terwujud apabila seorang karyawan tidak pernah menjalin komunikasi antar tim, komunikasi lintas bagian, bahkan komunikasi lintas departemen dengan baik. Untuk bisa membuat konsep rencana kerja yang baik, seorang karyawan harus tahu betul apa kebutuhan yang paling mendesak untuk segera ditangani, pekerjaan mana saja yang berorientasi ke masa depan, dan pekerjaan apa saja yang terindikasi kepentingan-kepentingan lain, selain dari tujuan utama perusahaan.
Semua permasalah diatas hanya bisa terjawab, bila seorang karyawan mempunyai kemampuan berpolitik dengan baik di dalam perusahaan tempatnya bekerja. Kemampuan politik untuk mampu mengungkap, ide-ide yang selama ini tertutup, ide-ide blilian yang tidak berani diungkapkan, hambatan-hambatan yang ada namun tak kasat mata. (musafak 35412164, mahasiswa program sarjana teknik industri – universitas gunadarma)

Apa Yang Ingin Anda Tulis.

About musafakalfarizi

Musafak PT.Krama Yudha Ratu Motor Jln.Raya Bekasi Km.21~22 Jakarta Timur Division Head Production Engineering
This entry was posted in Gunadarma. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s