MASIH PERLUKAH KITA BELAJAR TOLERANSI BERAGAMA

Toleransi beragama di Tanah Air, khususnya di DKI Jakarta menjelang Pilkada pada tahun 2017 akhir-akhir ini mendapatkan ujian seakan mencapai titik nadir setelah terjadinya pro-kontra seputar seorang pemimpin yang harus Muslim maupun keluhan sejumlah umat agama minoritas yang merasa dipersulit untuk mendirikan rumah ibadah.

Munculnya toleransi beragama di masyarakat tentu tidak dapat muncul dengan sendirinya. Ia adalah buah dari proses pendidikan yang panjang yang senantiasa menekankan pada sikap menghargai perbedaan, apapun perbedaan itu. Kini, dengan derajat toleransi beragama yang makin menurun di masyarakat, agaknya perlu dicermati kembali bagaimana sistem dan proses pendidikan yang berjalan di masyarakat.

Ternyata, di tengah makin inklusifnya kehidupan sosial umat beragama dan makin sedikitnya dukungan kepada partai politik yang menjadikan agama sebagai labelnya, dunia pendidikan menunjukkan kecenderungan ekslusifitas beragama yang makin meningkat. Contohnya, makin maraknya sekolah-sekolah bernuansa agama yang bersifat ekslusif, terutama yang didirikan oleh swasta. Sekolah-sekolah swasta yang bernafaskan kebangsaan dan inklusif seperti Taman Siswa, Perguruan Cikini dan sebagainya kini kurang mendapatkan tempat di masyarakat. Para orang tua lebih memilih sekolah-sekolah yang bernafaskan agama bagi putra-putrinya dengan alasan bahwa pendidikan agama perlu ditanamkan secara dini. Di satu sisi, argumentasi tersebut sangat tepat, tapi di sisi yang lain sang anak kehilangan kesempatan untuk sedari dini mengenal teman-temannya yang berbeda agama.

Sementara itu sekolah-sekolah negeri yang seharusnya bercirikan inklusif justru malah ikut-ikutan trend masyarakat yang makin ekslusif. Di sekolah-sekolah negeri bahkan setiap hari Jumat mewajibkan siswanya yang muslim mengenakan busana Muslim, khususnya jilbab bagi pelajar putri. Bagaimana halnya dengan pelajar putri yang non Muslim, apakah mereka juga wajib berjilbab pada hari Jumat? Tentu tidak, mereka hanya wajib “menyesuaikan diri”. Dalam proses “penyesuaian diri” itulah banyak pelajar putri non Muslim yang mengalami perasaan diskriminasi dan dibedakan hanya karena mereka tidak berjilbab.

Belum lagi, bila berbicara tentang muatan pelajaran agama di sekolah yang kurang memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengenal agama di luar agamanya masing-masing. Kepada setiap siswa hanya ditanamkan tentang kebenaran agama dan keyakinan masing-masing, tanpa diberikan pemahaman bahwa “kebenaran” ada juga di agama lain. Sifat doktriner pelajaran agama di sekolah telah menutup ruang bagi siswa untuk mengenal “kebenaran” agama lain yang kemudian pada gilirannya dapat menimbulkan sikap menghargai perbedaan, sikap toleransi beragama.

Sudah saatnya para orang tua mengambil pilihan-pilihan bijak demi tumbuhnya sikap toleransi beragama pada putra-putrinya. Para orang tua hendaknya menyekolahkan anak-anaknya di sekolah-sekolah yang inklusif dan memberikan tambahan les agama secara privat untuk memperkuat ilmu agama dan moral putra-putrinya. Dengan bersekolah di lembaga pendidikan yang inklusif, sang anak akan mendapatkan kesempatan mengenal teman-temannya yang mempunyai keyakinan berbeda sehingga pada gilirannya akan menumbuhkan sikap toleransi beragama.

Penulis, yang juga seorang pengagum almarhum Kyai Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Kyai Ahmad Mustofa Bisri juga sering membaca filosofi-filosofi hidup, pandangan kyai-kyai besar tersebut dalam memandang sebuah toleransi beragama sebagai referensinya.  Suatu hari ada kyai-kyai NU kumpul di sebuah pondok pesantren. Saat itu Mbah Yai Ahmad Mustofa Bisri ingin menerangkan tentang awal mula kesalahan beragama. Beliau melemparkan pertanyaan, “PPP, PDI, dan Golkar itu wasilah atau ghooyah? ” Para kyai pun serempak menjawab dengan mantap, “Wasilah!” (Jalan). Ada yang saking mantapnya, jadi malah setengah berteriak. Kyai sepuh ini (Mustofa Bisri) memberikan pujian, “Nilai 100 untuk bapak-bapak kyai.”

“NU, Muhammadiyah, dan semacamnya itu wasilah atau ghooyah?” Mbah Mustofa Bisri bertanya lagi. Para kyai kemudian menjawab pelan agak ragu-ragu, “Wasilah…” Beliau hanya tersenyum mendengar nada jawaban para kiyai yang mulai terasa berubah.

Pertanyaan terakhir, Mbah Mustofa Bisri pun bertanya kembali , “Islam, Katholik, Hindu, dan semacamnya itu wasilah atau ghooyah? ( Tujuan)” ? Seketika itu pula ruangan menjadi hening. Tidak ada kyai yang menjawab. Mbah Mustofa sampai mengulangi pertanyaannya tiga kali, para kyai tersebut tetap hanya diam.

Ghooyah itu artinya tujuan akhir. Wasilah itu artinya sarana menuju. Kemudian ada kyai yang balik bertanya, “Kalau pendapat Gus Mus sendiri bagaimana?” Dengan mantap beliau menjawab, “Agama Islam adalah wasilah. ” Para kiyai kemudian ribut sendiri, “Lho, bagaimana bisa agama Islam adalah wasilah?!” Sekali lagi, dengan mantap, Mbah Yai Ahmad Mustofa Bisri menjawab penuh kharisma, “Karena ghoyah-nya (tujuannya) adalah Allah.” Seketika itu pula, semua kyai di ruangan tersebut kembali diam semua.

Mbah Mustofa Bisri lantas membuat pengandaian. Kalau Anda ingin ke Jakarta memakai mobil, bus, atau kereta api, tidak akan sampai. Karena Jakarta sedang banjir, maka melalui jalan darat tidak mungkin bisa sampai. Hanya bisa sampai ke Jakarta melalui pesawat terbang. Meski satu-satunya sarana transportasi yang bisa menjangkau Jakarta, pesawat terbang ini tetaplah hanya wasilah (sarana menuju).

Maka dari itu, di berbagai kesempatan, Mbah Mustofa Bisri menasehati Nahdliyyin untuk selalu menghormati umat beragama lain. Bagaimanapun juga, umat beragama lain pada dasarnya sama seperti umat muslim, yaitu sedang berusaha menuju-Nya. Semua pilihan orang lain harus dihargai, seperti diri kita ingin dihargai memilih wasilah agama Islam. Jadi, awal mula kesalahan beragama adalah menganggap agama Islam seperti partai politik. Ditambah salah menetapkan apa yang menjadi wasilah dan apa yang menjadi ghooyah dalam agama Islam. Akhirnya, bisa tumbuh sikap berlebih-lebihan dalam beragama Islam, dan pada akhirnya menjadi sibuk “kampanye” atribut agama Islam yang disertai kebencian terhadap umat beragama lain. Sehingga justru lupa kepada tujuan pokok agama Islam. Mirip perilaku para anggota partai politik masa kini. Semoga kita tetap erat bergandengan tangan dalam Allah S.W.T

Bagi sesama umat Islam, kita adalah saudara. Bagi yang lain agama dengan kita, mereka adalah sahabat-sahabat kita, sesama makluk Allah yang perlu saling menyayangi. Jangan sampai kita terpecah belah persaudaraan dan persahatan hanya karena pilihan politik yang berbeda, kalau sampai itu terjadi, maka perlu kita pertanyaan pada diri kita sendiri, “Sesungguhnya saya men Tuhankan pemimpin, atau men Tuhankan Allah”. (MUSAFAK/Mahasiswa Universitas Gunadarma)

About musafakalfarizi

Musafak PT.Krama Yudha Ratu Motor Jln.Raya Bekasi Km.21~22 Jakarta Timur Division Head Production Engineering
This entry was posted in Gunadarma. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s